Being kind does not equal being stupid

Jadi orang baik yang bukan berarti menjadi orang yang “bodoh”

Pengikut Yesus pasti punya hati yang mengikuti hati Yesus, hati yang baik, lemah lembut, rendah hati. Tapi apakah menjadi orang yang baik, lemah lembut dan rendah hati berarti membuat kita menjadi orang yang kurang cerdas.

Pertanyaan ini penting ketika kita berhadapan dengan realita kerja kita sehari-hari, dimana kita dan rekan kerja kita seringkali saling membutuhkan pertolongan satu sama lain. Tentu kita ingin membantu rekan kita, sebagai rekan satu tim yang perlu saling menolong, sebagai orang Kristen yang perlu jadi garam dan terang di tempat kerja, sebagai proffesional yang ingin berprestasi semaksimal mungkin di tempat kerja.

Tapi mungkin muncul situasi-situasi dimana kita merasa bahwa “koq ada yang salah yah…”, situasi dimana mungkin kita ragu, apakah kita membantu orang atau justru dimanfaatkan orang… Kita harus menyadari bahwa tempat kerja diisi oleh orang-orang dengan berbagai macam latarbelakang, dan yang paling penting, berbagai macam hati dan niat.

Bagaimana kita, sebagai pengikut Yesus berbuat baik di lingkungan kerja, tanpa membuat diri kita menjadi “korban” rekan atau situasi kerja yang kurang baik, dan tanpa menjadi orang yang berprasangka? sulit bukan? atau mundur sedikit, perlukah kita sebagai pengikut Yesus mencegah diri kita dari dibodohi? Jika jawaban terhadap pertanyaan itu adalah “ya”, maka mari kita coba cari apa pendapat Tuhan tentang bagaimana kita berfungsi di tempat kerja/”dunia”.

Yesus mengetahui bahwa kita akan menghadapi tantangan dimana kita harus memiliki hati domba, setia mengikuti teladan gembala, tanpa menjadi korban dan Dia menyediakan resep yang luar biasa untuk bisa berjaya di tengah2 kawanan serigala,

Matius 10:16 – “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

ada 2 komponen disini:

1. tulus seperti merpati, tulus bicara tentang hati. didalam tempat kerja, kita harus memiliki hati yang tulus, menjalankan tanggunjawab dengan tulus, berinteraksi dengan tulus, bekerjasama dengan tulus. Ini berarti kita tidak boleh memiliki prasangka jelek terhadap orang, tidak curigaan/parno, tidak punya niat mencelakakan orang (ya iyalah)

2. cerdik seperti ular, cerdik bicara tentang pikiran. dalam interaksi di tempat kerja, kita harus cerdik, cerdik dalam mendapatkan promosi (bertanggungjawab dalam kerja, berikan lebih dari yang ditentukan oleh desc. job/ target anda. memahami kebutuhan atasan dalam konteks kerja), cerdik dalam menghadapi politik kantor (ga usah ikut2an menyebar gosip, be polite and kind to everyone), dan yang sangat relevan dengan topik hari ini, cerdik memahami kapan kita dalam situasi terancam “diterkam” oleh orang lain. kita lanjutkan cerdik terakhir ini di paragraf baru.

Apa bedanya menjadi baik dan menjadi “bodoh”, anda baik ketika anda membantu orang, anda mulai kurang cerdik ketika anda dimanfaatkan oleh orang. Sulit yah membedakan membantu dan dimanfatkan, pada titik apaah bantuan kita mejadi sandungan bagi kita sendiri?

Mungkin komponen utama adalah rasa nyaman di hati, dukungan dari teman yang mengenal anda, dan kedua pihak mengalami manfaat yang kurang lebih sama.

Contoh, rekan kerja anda meminta bantuan anda, lalu beberapa minggu kemudian anda meminta bantuan si rekan kerja, jika si rekan kerja menyempatkan, tentu ada timbal balik, tapi jika beberapa kali anda meminta bantuan, si rekan kerja menolak, tentu anda merasa ada yang salah, mungkin disini anda perlu berdiskusi dengan rekan kerja anda tentang tindakannya (tapi tidak perlu membagikan pengalaman/diskusi anda dengan orang lain, menyebar gosip adalah kunci sukses menghancurkan karir di kantor).

Contoh lain, ada teman yang anda tahu keluarganya mengalami kesulitan, teman anda tidak minta bantuan anda, tapi anda bantu, dia tidak bisa memberi timbal balik ke anda, tapi hati anda nyaman (you’re doing a good thing), disini anda membantu, tapi jika ada orang yang minta bantuan ke anda berkali-kali, dan anda mulai tidak nyaman, teman dekat anda juga merasa tidak nyaman, saatnya evaluasi situasi ini, apakah anda membantu atau mulai kurang cerdik. Kita harus ingat bahwa kita punya sumberdaya yang terbatas, ada berbagai cara untuk berbuat baik dengan menyalurkan sumber daya kita, tapi dengan sumberdaya yang terbatas, kita perlu yakin bahwa kita menyalurkan kebaikan kita ke tempat yang tepat, jika tidak, maka kita justru telah menyia-nyiakan sumberdaya yang diberikan kepada kita.

Contoh lain, perusahaan memberikan anda desk job sekian, anda melakukan lebih dari deskjob anda, apakah anda kurang cerdik? sama sekali tidak, anda justru bertindak maksimal di kantor, meningkatkan peluang promosi anda, dan mengikuti teladan Yesus (Matius 5:41 – Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.)

tapi jika anda bekerja di perusahaan, beberapa kali anda dijanjikan sesuatu (eksplisit dijanjikan yah, bukan anggapan kita saja), beberapa kali pula janji itu dibatalkan, maka layaklah anda evaluasi situasi anda.

Apakah hati kita nyaman saat kita membantu? apakah kita menyalurkan bantuan kita untuk orang/tujuan dimana sumberdaya kita dimanfaatkan dengan baik?

tapi…bukankah kita tidak boleh curigaan/parno, lantas bagaimana kita waspada tanpa menjadi curigaan/parno…

balik lagi ke hati yang tulus, saat kita membantu orang, mulai dengan hati yang tulus, kalau berkali-kali kemudian kita mulai tidak nyaman, evaluasi situasi anda. Minta pendapat orang2 yang mengenal anda, biasanya dari sini anda dapat memperoleh pandangan yang lebih objektif tentang situasi anda.

Tapi jika baru bertemu orang kita mulai berprasangka, dan prasangka kita tidak didukung oleh orang2 yang mengenal kita dan/atau orang itu, mungkin justru waktunya untuk evaluasi hati kita.

Memang sulit membedakan situasi dimana kita berbuat baik dan dimana kita mulai dimanfaatkan oleh orang,

jika kita mengingat ayat Matius 5:41 diatas, apakah kita menolak mengikuti teladan Tuhan dengan tidak bersedia menolong orang “lebih” dari yang dia minta?

Saya rasa ini kembali kepada fakta bahwa kita punya sumberdaya/talenta yang terbatas, apabila berkali-kali, sumberdaya kita tampaknya disalurkan ke tempat yang meragukan, apakah kita menjadi pengawas yang bijak atas sumberdaya yang Tuhan berikan?

Sekali lagi, saya harus akui memang sulit membedakan kapan kita membantu, dan kapan kita mulai kurang cerdas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: