Bangga Tanpa Subsidi

Bangga Tanpa Subsidi

Kebijakan jokowi menaikan harga BBM pada 18 November 2014 banyak menuai protes, tak terkecuali di milis ini.

Satu hal yang menarik dari pihak yang pro dan kontra terhadap kebijakan tersebut adalah besarnya uang Negara yang dihemat selama periode kebijakan tersebut.

Ada angka yang menyebutkan Rp 22 trilyun. Saya rasa cukup logis karena dari tahun ke tahun nilai subsidi tersebut Rp 200 trilyun lebih.

Jadi saat saya mendengar argument “loh, harga minyak dunia diturunkan, subsidi malah dihapus”, saya melihat suatu logika yang sangat salah, harusnya orang berpikir begini “wah, harga minyak dunia turun aja subsidi hemat Rp 22 trilyun, gimana kalau stabil atau naik”.

Tapi sayang, demi sikap keukeuh, ga rela, dengan presiden yang terpilih secara konstitusional, semua pola pikir objektif logis hilang. Kapasitas otak yang ada dishort-circuit oleh ketidakrelaan.

Kembali ke Rp 22 trilyun tadi, taruhlah saya salah besar soal angkanya, taruhlah “hanya” Rp 15 trilyun untuk 1.5 bulan.

Bayangkan betapa banyak rumah sakit, sekolah, pelabuhan, jalan tol, rel kereta api, pembangkit tenaga listrik yang bisa dihemat dengan 120 trilyun (12 / 1.5 x 15 trilyun) ?

Betapa bodohnya kita sebagai bangsa menyerahkan 120 trilyun (setiap tahun!) itu ke pengusaha-pengusaha minyak yang notabene hanya segelintir orang dibandingkan rakyat indonesia yang 240 juta orang ini?

Lantas uang tambahan Rp 120 trilyun itu akan dipakai untuk apa oleh segelintir jaringan pengusaha minyak tersebut? Dipakai untuk konsumsi sehingga kembali ke sistem ekonomi? Atau mungkin malah dipakai membayar anggota DPR, pemerintah, dan “aktivis” untuk melanggengkan perampokan Negara yang disebut “subsidi bbm”?

Saya tidak habis pikir dengan sikap orang-orang yang menolak kenaikan harga bbm dengan alasan ekonomi “rakyat”

Rakyat yang mana? Rakyat yang kesempatannya untuk dapat sekolah, rumah, jalan, dan sebagainya tadi menguap dalam bentuk premium?

Rakyat yang bisa dapat pekerjaan apabila Rp 120 trilyun tadi diinvestasikan pemerintah untuk infrastruktur?

Atau rakyat yang sanggup beli Avanza tapi masih minta disubsidi?

Rakyat yang katanya “menderita karena kenaikan harga”? Lah, memang berapa inflasi naik kemarin?

Apakah sudah ada diskusi mengenai kenaikan inflasi akibat bbm vs pertumbuhan ekonomi karena uang subsidi tadi masuk kembali ke ekonomi Indonesia?

Berapa persen kah BBM terhadap belanja rumah tangga? 10%? 5%? Demi membela 5% ekonomi individu kita, kita rela rusak Negara ini? Kita rela biarkan Negara ini dirampok setiap hari selama puluhan tahun?

Saya heran dengan sikap egois bangsa kita.

Ribut menyumpahi Negara lain yang “Individualistis”

Tapi realitanya tidak sedikit rakyat Negara ini yang rela mengorbankan kepentingan bangsa dan Negara demi kepentingan pribadi.

Ribut tentang kenaikan bbm yang mempengaruhi ekonomi keluarga atau dirinya sekian persen tapi tidak mau berpikir tentang Bangsanya.

Pola pikir kerdil yang berfokus pada “saya” dan bukan “Nation”

Saya heran dengan sikap manja bangsa kita.

Semua yang protes tentang subsidi BBM, kemungkinan besar sudah dewasa. Mungkin sudah bekerja, sudah menikah, sudah punya anak.

Lah koq tidak punya malu? Tidak punya malu masih mengharapkan hidup disubsidi? Disubsidi oleh Negara pula.

Negara yang seharusnya menerima Net Present Value dari anak-anaknya, sekarang malah berhadapan dengan anak-anak durhaka yang setiap hari menuntut “mana Subsidi BBM saya? Mana subsidi listrik saya? Mana subsidi gas saya?”

Bukankah impian kita, kebanggaan kita, sebagai orangtua adalah membuat anak kita menjadi mandiri? Saat dia besar, dia menjadi penakluk dunia? Betapa hancurnya hati kita, apabila anak kita sudah dewasa dan setiap hari dia merengek-rengek datang ke rumah orang tua minta subsidi? Betapa malunya kita, apabila anak kita tumbuh besar bukan untuk menjadi dewasa tetapi tetap menjadi kanak-kanak?

Ibu Pertiwi menangis, anak-anaknya datang bukan membawa persembahan, bukan prestasi, bukan sumbangsih,

Tapi datang dengan tuntutan demi tuntutan.

“IBU KAYA, ibu bayar BBM kami, ibu bayar listrik kami, ibu bayar gas kami”

Apakah anda dengar? Apakah anda pahami? Ibu pertiwi menangis, melihat putra-putrinya setiap hari cuma bisa meminta subsidi

Dan tanpa malu, tanpa malu, masih ada pengecut-pengecut yang bahkan berkata begini “rakyat Indonesia belum waktunya hidup tanpa subsidi”

Pikir! Bagaimana harga diri bangsa kita tidak diinjak-injak bangsa lain? Kita sendiri yang menginjak-injak harga diri kita. Apa ini sikap yang kita mau contohkan ke anak-anak kita? Bagaimana generasi mendatang bisa percaya mereka mandiri kalau setiap hari mereka lihat orangtuanya merengek-rengek?

Kapan Jepang punya waktu hidup dengan subsidi? Kapan Taiwan punya waktu hidup dengan subsidi? Kapan Singapura punya waktu hidup dengan subsidi? Tidak satu hari pun Tuhan beri Negara-negara tadi ruang nafas untuk bisa punya subsidi.

Tapi saat Negara-negara tadi menjadi maju, bukannya belajar, bukannya malu dengan diri sendiri, malu dengan betapa kita sia-siakan harta bangsa ini; kita malah menuntut “kami ga bisa hidup tanpa subsidi” sambil mungkin berkata “Jepang, Taiwan, Singapura yang hisap diri kita”.

Yah goblok aja kalau Negara yang punya sumberdaya mau-mauan dihisap oleh Negara yang tidak punya sumberdaya.

Sudah waktunya STOP minta subsidi.

Ngaca keluar, lihat kedalam.

Dunia maju terus. Mau kita jadi bangsa manja atau mandiri. Dunia maju terus.

Waktunya kita punya sikap baru.

Sikap bangga dengan kemandirian, bangga hidup tanpa subsidi.

Mau memberi Net Present Value buat Negara ini.

Malu minta satu perak pun dari Ibu Pertiwi.

Buang semua subsidi BBM, subsidi listrik, subsidi gas.

Kalau Negara lain bisa hidup tanpa subsidi, kenapa kita tidak bisa? Apa kita kalah dengan Jepang? Kalah dengan Taiwan? Kalah dengan Singapura?

Waktunya kita bangun dan sadari

Pola pikir “kami harus disubsidi” itu egois, menghisap Negara demi kepentingan diri sendiri

Pola pikir “kami belum siap kalau tidak disubsidi” itu memalukan, dimana harkat dan martabat kita dibanding bangsa-bangsa yang hidup tanpa subsidi dari bangsa mereka lahir?

Waktunya pola pikir baru, Bangga Tanpa Subsidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: