A piece of history – October 2018

www.theguardian.com/world/commentisfree/2018/oct/18/as-trump-cozies-up-to-saudi-arabia-the-rule-of-law-collapses-further

“Pompeo’s approach to the facts was hardly inspiring. “I don’t want to talk about any of the facts,” he said. “They didn’t want to either, in that they want to have the opportunity to complete this investigation in a thorough way.””

Advertisements

Economic Participation and Capitalism

Original content by Sendy Filemon – 10 Sep 2018.

Economy doesn’t exist without participants.

By it’s nature, capitalism means the increasing ownership of capital to an ever smaller group of people while decreasing ownership of capital from an even larger group of people.

When the capital removal reach a point where some people are totally without capital, these people exist but they are non participant to the economy.

The removal of people from the economy is a very slow counterweight to capitalism. We can see today that many millions of people are without access to capital but it doesn’t seem to affect the world economy. Seem.

Continue reading

Ethics – a luxury?

www.theguardian.com/world/2018/aug/17/google-staff-protest-against-plan-for-censored-chinese-search-engine

Don’t be Evil, Google said, until not being evil not longer matter.

It no longer matter whether they are helping a regime censor not free speech, not search term, but access to information and informed decision that would affect their life and family.

Censorship is not about information, censorship is power to decide. By taking citizens’s ability to access information, the government is taking citizens ability to make informed decisions.

And Google, “Don’t be Evil” is going to be part of that?

Justifying it with: access to biggest market as fitting to our vision?

It’s ok for US corporations to be slaves to. creating money, that’s what their law requires. But to claim “don’t be evil” and then made available tools that would allow evil, that’s just high hypocrisy.

Pelanduk di antara gajah bertarung – 3 Juni 2018

Tantangan global hari ini dan 30 tahun kedepan itu:

1. otomasi dari robot dan AI

2. tidak terbendungnya kekuatan ekonomi cina, negara isinya 1.3 milyar manusia, hampir semuanya gila kerja demi ambisi jadi negara kaya

3. Tidak terimanya amerika bahwa negara dia, dengan 300 juta orang manusia, yang sudah kenyang dengan gdp tinggi, tidak akan bisa mengejar cina yang penduduknya 4x lipat. Produktivitas sama pun, Amerika pasti ketingggalan.

Indonesia, dengan 250 juta penduduk akan jadi apa?

Tergantung:

Lebih banyak penduduk yang merasa bahwa karena dia ada di negara, maka negara yang harus kasih makan dia.

Atau lebih banyak penduduk yang merasa bahwa karena dia ada di negara, dia yang kasih makan negara, supaya negaranya kuat.

Apa dampak ajaran orba ke beberapa generasi orang indonesia? “Indonesia negara kaya, negara yang urus anda, biarkan kita yang berkuasa, supaya negara yang urus anda. Kalau kita gagal, itu pasti salah orang lain”

Sampai hari ini masih banyak yang percaya propagada tersebut.

Saya pernah bertemu dengan perusahaan teknologi di silicon valley. Mereka bayar satu tim developer china, 1 milyar per bulan, isinya cuma 4 orang.

Saya bilang, di indonesia tim developer paling mahal 200 juta rupiah per bulan.

Si silicon valley bilang, output developer chinanya “worth it”. Beda waktu 14 jam, tapi pas jam amerika kerja, tim developer china juga masih kerja.

Salah siapa? Salah china? Salah amerika? Atau salah jokowi mungkin?

Memang paling susah berkaca dengan jujur.

Sanggupkah kita kerja dari jam 5 pagi sampai jam 11 malam, tidur, makan, mandi, semuanya cuma buat kerja. Demi ambisi jadi negara kaya.

Lihat saja PNS kita. Teman dan saudara sendiri mungkin, beranikah kita bertanya mereka? Hei, duit pajak saya bayar gaji kamu, kamu kerja yang bener yah.

Atau lebih dekat ke tulang, kalau teman sesama industri melanggar aturan, membuat professionalism industri jadi bahan tawa terkekeh-keleh di luaran, kita diam saja? Dan dengan demikian kita turut berkontribusi terhadap gagal majunya indonesi.

Salah siapa kita pengecut menghadapi perilaku tidak professional teman sendiri? Salah jokowi?

Akumulasikan perilaku tersebut setiap hari selama puluhan tahun. Yah indonesia yang sekarang inilah hasilnya.

Dunia sedang di titik penentuan, dua kekuatan besar sedang berebut posisi. Negara kita mau jadi, tergantung rakyatnya mau jadi penghisap ibu pertiwi atau pembangun ibu pertiwi

It’s the parents fault

Having kids make me realize, that this relationship is on me.

That it is always the parents fault how their kids turn out to be. Regardless of their own natural inclinations and talents, their presence here is not of their own desire, but of the parents. And just as the adults are responsible for the outcome of everything that they do now or 10 years ago, they are responsible here too.

My first daughter was about 2 years at the time, just getting past 2 years.

And she was cranking it.

As I look at her and I thought “what are you doing kid? Why am I dealing with you”, I realize that the answer is “Because I wanted her here.”

I and my wife, her parents, keep trying to have her. And when we have her, and she’s behaving exactly like a year old, we complained? And we put it on the toddler?

No way.

This relationship between parents and children is on the parent.

So if I daughter do anything to me 30 years from now, congratulations, it’s me that wants her here. The ball is always on my court.

Why should the state let you compete with itself?

Met an indonesian bitcoin enthusiast group that proclaims “government can’t shut bitcoin down”.

My response:

Ga bisa shutdown? Khayalan anak muda. Anda udah punya orang berkuasa belum di kantong? Negara ga ada kepentingan kasih ruang bagi kompetitor dalam hal hak negara menerbitkan currency. Tinggal negara bilang illegal, polisi gerak, you masuk penjara, selesai deh “government can’t shut us down”. The state has monopoly over legalizing use of force to any party it wants, what do you have?

Dulu ada anak2 muda bikin voip pas voip baru mulai, itu aja masuk penjara. Apa yang diancam sama voip? Kepentingan satu bumn doang, respon negara? Penjara. Anda kurang belajar sejarah indonesia.

Btw, bitcoin, cryptocurrency, and blockchain are 3 different things. Please stop equating them.

T3 Soekarno Hatta – software failure

T3 Soekarno Hatta – International Departure.

Cuma ada 1 toilet dari garbarata sampai pintu keluar gedung terminal. Lokasi toilet persis sebelum imigrasi, setelah imgirasi, lokasi toilet diluar gedung. Diluar gedung. Nice, gerbamg Indonesia ke dunia, pakai outhouse.

Tidak ada lift di dalam gedung terminal untuk naik ke parkiran lantai tinggi.

Harus ke parkiran dulu, naik lift di parkiran. Hasilnya? Macet di parkiran karena traffic orang, barang, dan kendaraan kecampur.

Ada dua pintu keluar dari gedung terminal. Kalau sudah keluar dari salah satu, ga boleh masuk lagi.

Jadi, kalau sampai salah pilih keluar, atau karena cari toilet terdekat (yang tidak ada di dalam gedung), tidak boleh masuk lagi. Harus muter jalan sambil bawa trolley di luar gedung. Dengan awang-awang yang bisa cuma 2 meter lebarnya, dengan distance from ground 68-10 meter. Di negara tropis. Itu namanya tampias mas, tampias semandi-mandinya.

Wong yang desain ini gimana? Gedungnya bagus, user flow nya berantakan.

Di parkiran, ini kan parkiran bandara, orang akan bawa trolley sampe ke mobil. Masih ada tuh, area parkir yang ditaruh di ramp.

Jadi ada aja, orang-orang yang dengan cantiknya, taruh trolley dia, lupa itu permukaan miring, dan dengan sukses trolley dia hajar bemper mobil di sebelahnya.

Mengingat gedung ini didesain, yang salah bukan user yang lupa kalau itu permukaan miring, yang salah adalah yang si desainer yang dengan absent mindednya mendesain parkiran bandara dengan ramp dijadikan tempat parkir.

Saya lulusan arsitek, saya diajarin dosen saya untuk mikir user itu bakal pake ciptaan kita seperti apa.

Lah ini yang desain merasa diri profesinya arsitek, tapi entah dosen dia ngajarin apa pas kuliah.